Senin, 21 November 2022

GAMBARAN DIRI SEBAGAI GURU PENGGERAK DI MASA DEPAN

Oleh: Muhammad Fajri
CGP Angkatan 7

Setelah mengikuti serangkaian program guru penggerak, gambaran diri saya di masa depan adalah saya seorang guru yang memiliki nilai-nilai guru penggerak seperti berpihak pada siswa, mandiri, inovatif, kolaboratif, dan reflektif. Dari nilai-nilai tersebut, maka peran saya sebagai guru penggerak adalah sebagai berikut:

Berpihak pada Murid

Murid adalah segalanya. Sejatinya filosofi ini harus diilhami dengan baik oleh seorang pendidik, bahwa keberhasilan, kesuksesan dan kebahagian setinggi-tingginya seorang muridlah yang menjadi tolok ukur berhasilnya seorang pendidik. Maka untuk itu, perspektif pendekatan yang saya lakukan di dalam pendidikan dan pengajaran adalah bermuara pada murid. Apa yang mereka butuhkan, bukan apa yang saya tawarkan. Di sini, tentu saya harus fokus dan konsisten mengenal karakteristik, gaya belajar para peserta didik, menekuni dan melakukan assessment diagnostic yang terukur serta selalu terbiasa memuliakan para peserta didik bahwa sejatinya mereka semua adalah permata terpendam yang mana bila diasah dengan tepat guna akan menjadi permata yang amat bernilai harganya. Dan untuk itu pula, dalam menyaji pelajaran saya harus senantiasa mampu menyajikan pelajaran terdifferensiasi baik secara proses, konten dan produk.

Mandiri

Saya adalah guru yang mandiri, yaitu guru yang mampu memotivasi diri sendiri untuk melakukan perubahan baik untuk diri sendiri dan lingkungan sekitar. Sebagai seorang guru penggerak yang mandiri, saya harus menjadi independen dalam mengembangkan diri dan juga mampu memberdayakan teman sejawat, peserta didik dan lingkungan masyarakat baik di lingkungan kerja maupun domisili.
Nilai mandiri yang sudah saya miliki, sudah saya praktikkan dan tentu akan terus saya pertahankan selalu berupa aktif mengelola blog pendidikan milik pribadi di domain https://a86nx.blogspot.com/, terlibat dalam kepengurusan Pesantren Modern Al Falah Abu Lam U (tempat saya berkiprah sebagai pendidik), aktif membina relasi-relasi pendidikan yang produktif: Partner Schule PASCH Goethe Institut (Mitra Sekolah Menuju Masa Depan), Program Pesantren Binaan BI, Komunitas SMP-BP, menjadi Guru Pamong PPG Bahasa Inggris Univ. Bina Bangsa Get Sempena 2021 & 2022.

                        Terlibat sebagai Pamong PPG                         Salah satu kegiatan evaluasi PASCH Goethe

Inovatif

Tantangan zaman yang dari hari ke hari makin kompleks menantang setiap insan untuk menjadi inovatif. Dalam menjawab tantangan yang begini rupa, menjamdi inovatif merupakan prasyarat survival. Selaku pendidik yang hari ini diamanahkan sebagai top level pimpinan, saya harus melahirkan gagasan-gagasan brilian dalam menghadapi derasnya arus perkembangan zaman dan tantangan masa kini utamanya yang berkaitan dengan pendidikan. Dalam menjawab kebutuhan hadirnya guru-guru terampil nan ‘berkualitas’ di sekolah saya, saya menggagas MGMP tingkat satuan sekolah yang mana dengan gagasan ini mampu mendorong inisiatif kolaboratif untuk tumbuhnya pendidikan berkemajuan berasas gotong royong, kemajemukan, integrative, produktif dan massif. MGMP adalah wadah kunci pemberdayaan guru secara mandiri dan bermartabat di tengah-tengah krisis kebijakan, ekonomi dan berbagai tantangan lainnya. Di sisi lain, menjawab learning gap, atau bahkan learning loss di peserta didik ‘alumni covid’ saya menginisiasi praktik baik di sekolah atau yang saya sebut sebagai BEST DAILY PRACTICES. Program ini sangat sederhana, di sini warga sekolah diajak berselancar dari hari ke hari dimulai dengan:

v  Senin, semua elemen sekolah praktik puasa sunnah hari senin dan shalat dhuha,

v  Selasa dengan hari air (setiap warga sekolah membawa air-tentu dengan tumbler masing-masing demi mengurangi sampah), karena sejatinya selama proses belajar, para guru dan peserta didik harus mengkonsumsi minuman yang cukup agar tidak terjadi dehidrasi serta tentu pada hari ini kami mengajak sedekah air ke lingkungan sekitar dengan kampanye menyiram Bungan/tanaman di lingkungan sekolah – latihan peka lingkungan.

v  Rabu, kami mengajak semua elemen sekolah untuk memperkaya literasi. Minimal di hari ini, semua warga sekolah membaca dan memperoleh wawasan baru. Waktunya bias fleksibel, tidak ditetapkman waktu khusus mengingat rutin di sekolah kami. Tapi dibawa saja semangat bahwa Rabu hari mencari wawasan walaupun secuil, dengan membaca kita berdaya. Karena: Today’s reader, leader tomorrow. Pembaca hari ini, Pemimpin esok hari. Apa jadinya dunia ini, bila orang malas membaca?

v  Kamis, semua elemen sekolah praktik puasa sunnah hari senin dan shalat dhuha,

v  Jum’at, hari sedekah, bagi pelajar pria bias dengan membawa sedekah jumatan, atau dengan mentraktir teman yang kurang beruntung untuk sekedar jajan ringan. Bersedekah itu indah, membuka pintu bahagia.

v  Sabtu dengan pesan dan wasiat baik serta saling sapa warga di lingkungan sekolah. Di sini, idealnya warga sekolah saling berangkulan, maaf-maafan, saling meminta kerelaan dari perilaku selama sepekan di sekolah dan semoga segala amal selama sepekan di sekolah beroleh barakah dan ganjaran terbaik serta senantiasa jadi ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.

 

Kolaboratif

We humans are social beings. Kita manusia adalah makhluk social dan untuk itu ‘kolaborasi’ adalah ruh social. Sebagai seorang individu dalam kontsruksi social saya tidak bias berlepas diri dari bekerjasama dengan orang lain. Tentu pihak yang paling harus proaktif dalam kolaborasi ini adalah saya pribadi. Bila saya tidak proaktif dalam berkolaborasi bagaimana pula respon dan penerimaan mitra dalam kolaborasi saya. Alhamdulillah saya punya nilai kolaboratif yang baik. Saya terlibat aktif dalam setiap kegiatan intra sekolah, baik dalam bentuk kepanitiaan formal maupun informal.

Di lingkup sekolah, saya membina relasi dan kolaborasi baik dan intens dengan semua stake holder dan warga sekolah. Saya kira kunci keberhasilan perwujudan cita pendidikan di sekolah adalah dengan hadirnya kolaborasi yang harmonis dengan semua elemen di sekolah.

Dalam rangka berkolaborasi, saya tidak saja berkolaborasi di tingkat lokal, sebagai bagian dari masyarakat global, saya juga membina kolaborasi pendidikan dengan unsur luar negeri. Hari ini saya masih intens bergerak di isu lingkungan bekerjasama dengan Ryukoku School Japan, dan mendorong para guru serta peserta didik di sekolah saya berperan dalam kampanye global di bawah inisiasi PASCH-Goethe Institut serta menerima kemitraan dari berbagai institusi lainnya.

 


Salah satu sesi zoom meeting bersama guru dan pelajar Ryukoku School, Jepang.
Santriwati Pesantren Al Falah Abu Lam U, ~ Binaan Muhammad Fajri (CGP Angkatan 7)

  


Berdiskusi Bersama Ibu Warih Wijayanti
Salah satu Tim Penulis Modul Coaching PGP

Reflektif

Nilai Reflektif layaknya adalah model mental yang diharapkan menubuh pada Guru Penggerak dimana mereka senantiasa memaknai pengalaman yang terjadi di sekelilingnya, baik yang terjadi pada diri sendiri maupun pihak lain secara positif-apresiatif-produktif. Aspek reflektif menjamdi hal utama dalam menyetir hidup dan kiprah saya selaku pendidik. Di sini, saya harus mampu mendayagunakan semua sumber sebagai pembelajaran penting dalam hidup saya maupun dalam meniti karir dan kiprah sebagai pendidik. Saya senantiasa melakukan habituasi diri terkait kegiatan-kegiatan reflektif, mana saja hal-hal positif yang bertumbuh dari saya dan mana pula hal-hal negative yang masih melekat dan harus saya koreksi serta harus menghilang dari pribadi saya baik secara individu merdeka maupun dalam kapasitas saya sebagai pendidik. Dan menjadi reflektif ini sangat membantu saya dalam menyikapi berbagai persoalan dan tantangan yang saya hadapi.

Demikian gambaran diri saya sebagai Guru Penggeraka Di Masa Depan. Guru Penggerak yang senantiasa Tergerak, Bergerak dan Menggerakkan. Semoga senantiasa pula istiqamah, karena amalan baik yang barakah adalah amalan yang istiqamah.

(Ditulis sebagai pemenuhan tugas 1.2.a.6. Demonstrasi Konstektual - Modul 1.2) 
 Aceh Besar, 21 November 2022.

 

 

Kamis, 10 November 2022

Amanat 17 Agustus 2022 - Pulih Lebih Cepat, Bangkit Lebih Kuat

Berikut goresan pena saya sebagai bentuk belajar berbagi amanat pada gelaran perdana Peringatan 17 Agustus 2022 di lingkup Pesantren Modern Al Falah Abu Lam U.


Amanat Peringatan HUT RI 77

 

 

PULIH LEBIH CEPAT

BANGKIT LEBIH KUAT

 

 

Indonesia ini lahir dari tetes darah ribuan bahkan mungkin jutaan para syuhada. Perjuangan mendirikan bangsa ini ditempuh tidak dalam waktu yang singkat/pendek. Butuh ratusan tahun, butuh sekian banyak pengorbanan dan perjuangan hingga kemudian pada 17 Agustus 1945, yang kala itu bertepatan dengan bulan Ramadhan, proklamasi kemerdekaan Indonesia diproklamirkan oleh dua orang proklamator; Soekarno dan Muhammad Hatta.

 

Proklamasi merupakan puncak perjuangan bangsa Indonesia untuk mencapai kemerdekaannya dan menandai berakhirnya penjajahan di atas bumi Indonesia dan kemudian mendorong pula lahirnya perdamaian-perdamaian di berbagai belahan penjuru dunia. Itu sedikit ulasan sejarah 77 tahun yang lalu.

 

Lantas kini, di tahun 2022. Kita juga masih dalam usaha upaya untuk pulih sembuh dari gempuran tentara Allah berupa rasa ‘khawatir’, khawatir karena Corona, khawatir karena wabah PMK, khawatir karena cacar monyet, khawatir karena gempuran LGBT, penyakit moral, malas, nir-etos dan berbagai ujian serta tantangan yang beraneka bentuknya.

 

Pertanyaannya adalah: bagaimana sikap kita, bagaimana pula jawaban, usaha dan upaya kita untuk menghadapi, keluar dari rasa, keadaan khawatir kita itu?

 

Dulu pekik takbir Bung Tomo, gerilya Soedirman, Proklamasi oleh Soekarno-Hatta telah menghantarkan bangsa Indonesia ke gerbang kemerdekaannya, gerbang bahagia, yang harusnya di masa-masa setelahnya diisi oleh masa-masa kegemberiaan dan pertumbuhan yang hakiki.

 

Namun, roda hidup tidak selalu indah dan bahagia sebagaimana yang kita damba. Hidup butuh untuk diperjuangkan agar dia dapat kita rasakan. Mengapa pula kemudian kita diuji dan ditempa.

 

Nah! Anak-anak sekalian!

Untuk pulih dan bangkit dari rasa khawatir di atas. Kita selaku pembelajar, maka, marilah kita isi kemerdekaan ini dengan belajar yang tekun, gigih, dengan tekad baja untuk menyongsong masa depan yang cerah nan bahagia. Mengisi merdeka hari ini tidak lagi dengan memangkul senjata melainkan dengan diisi oleh pertumbuhan dan perkembangan pengetahuan-pengetahuan yang mutakhir. Jangan sampai kita tidak mampu mengambil bagian dari perkembangan dan pertumbuhan ini karena kita lalai, abai, pongah dan lemah.

 

Anak-anak sekalian!

Mereka para pahlawan dan patriot bangsa, telah rela jiwa dan raga mereka lepas, terampas untuk menghadirkan kemerdekaan bagi kita anak-cucu mereka. Tak lain tak bukan, untuk diisi dengan kehidupan yang lebih baik, lebih manis, lebih berarti dan bermanfaat dari generasi ke generasi. Maka tibalah kewajiban bagi kita semua untuk menjawab dan mengisi, قد غرس من قبلنا فأكلنا و نحن نغرس الآن ليأكل من بعدنا  orang-orang terdahulu sudah ‘menanami untuk kita dan kita makan darinya, kini tiba saatnya kita menanami untuk dimakan oleh generasi setelah kita’ ---- dengan apa?? Dengan iman, takwa, akhlak mulia, dengan belajar, dengan etos kerja, dengan semangat ’45, dengan bertumbuh secara positif dan kontinyu, dengan istiqamah pada hal-hal baik, dengan loyalitas, dengan mandiri, dengan kesetiakawanan social, dengan bergotongroyong, dengan berkebhinnekaan global, bernalar kritis serta kreatif menyongsong Indonesia yang pulih dan lebih kuat dan kokoh untuk anak generasi yang handal, bermartabat, madani ----dan semoga Indonesia menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dimulai dari pribadi-pribadi qur’ani nan disegani.

 

Peserta upacara sekalian.

Teuku Umar, Cut Nyak Dhien, Cut Mutia, Laksamana Malahayati boleh tiada. Tetapi sosok-sosok pengganti mereka yang lebih hebat tetap dinanti. Maka, guru-guru kami, ustadz-ustadzah kami, didiklah anak-anak generasi ini menjadi lebih hebat dari para pahlawan itu, sebagai pengisi hari bahagia ini, hari-hari merdeka. Arahkan kami, bawa kami mencapai, menggapai impian-impian dan cita kami, agar kami senantiasa menjadi para pelajar yang bersyukur dan berarti. Guru-guru kami, izinkan lengan dan punggung kalian menjadi pijakan kami untuk sukses. Semoga balasan terbaik selalu menanti atas jasa-jasamu yang tidak dapat kami ganti.

 

Di akhir, kita tidak akan berhenti mengisi merdeka kini dengan hanya sekedar menari-nari tiada arti. Alangkah malu kita pada para pendiri bangsa. Bilamana kemerdekaan yang sudah direngkuh dengan luluran peluh dan kemudian diisi oleh orang-orang angkuh. Maka, mari menjadi pengisi kemerdekaan yang bertanggungjawab dan ikhlas. Semoga hari-hari kita senantiasa beroleh berkah dan karunia-Nya.

 

Billahit taufiq wal hidayah.

 

Lamjampok, 17 Agustus 2022

PENAMPILAN SANTRI AL FALAH ABU LAM U PADA PEMBUKAAN AL FALAH CUP 2022


Men sana in corpore sano....
Dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.


PEMBUKAAN AL FALAH CUP 2022
DI PESANTREN MODERN AL FALAH ABU LAM U

                        (Dok. Pribadi - Segmen menarik pada Al Falah Cup 2022)


Olahraga adalah salah satu kegiatan yang amat digemari santri Pesantren Modern Al Falah Abu Lam U. Oleh karenanya, untuk menjawab akan kebutuhan itu, Pesantren menyelenggarakan kegiatan Al Falah Cup saban tahunnya sebagai event mayor dalam bidang olahraga yang bertujuan untuk membangun silaturrahmi antar santri, mencari bibit olahragawan santri serta menjadikan Al Falah Cup sebagai medium syiar bahwa Pesantren tidak saja sebagai tempat menempa ilmu agama tetapi juga tempat yang menaruh perhatian pada tumbuh kembang peserta didik dalam berbagai aspek, baik rohani dan jasmaninya, sebagaimana satu peribahasa Arab menyampaikan: الْعَقْلُ السَّلِيْمُ فِي الْجِسْمِ السَّلِيِم akal yang sehat terdapat pada badan yang sehat. 

Semoga dengan kegiatan-kegiatan yang luar biasa ini mampu menjadikan para generasi ummat yang sedang menempa diri di Pesantren Al Falah Abu Lam U ini menjadi generasi-generasi yang tangguh dan handal sebagai pemimpin ummat di masa depan. Aamiiin.

Mulai dari Diri Sendiri - Tugas Refleksi diri Modul 1.2. Guru Penggerak Angkatan 7

  

NAMA CGP: MUHAMMAD FAJRI, S.Pd.I
CGP-7 ACEH BESAR

 

 TUGAS 1. REFLEKSI


(Dok: November 2022, PGP Angkatan 7)





1.      Berdasarkan Trapesium Usia tersebut, berikut peristiwa positif dan negatif yang saya alami di sana?

 a.      Peristiwa positif:

Adapun peristiwa yang bernuansa positif yang saya alami adalah ketika pada kelas 6 MIN (saat berusia 12 tahun) saya dipercayakan untuk membantu mengajar adik-adik di TPA kemukiman sebagai ‘ustadz’ junior. Menariknya di sini, saya juga diberi jerih per pertemuan Rp. 150. Ini penghasilan perdana saya berprofesi sebagai ‘guru’ J

Pada periode kelas 6 MIN ini pula saya sudah sering mendapatkan penugasan (amanah) dari unsur sekolah; baik dari kepsek, wali kelas, dan para guru. Di fase kelas 5/6 saya dipercayakan mengurusi pengibaran bendera di sekolah, dan untuk tugas ini saya juga diberi jerih oleh Kepsek. Adapun dari hikmah jerih yang saya terima ini, saya peruntukkan untuk membeli barang-barang yang bermanfaat bagi saya utamanya buku-buku pelajaran.


b. Peristiwa Negatif:

Adapun peristiwa yang bernuansa negatif yang pernah saya alami adalah ketika saya mendapatkan satu hadiah juara kelas yang ‘ganjil’ pada saat saya kelas 8 SMP. Tak dinyana, sang wali kelas meminta teman yang kurang beruntung secara nilai pada pengumuman pembagian rapor untuk menampar saya di depan kelas. Wali kelas meminta 2 teman saya yang paling rendah nilainya untuk maju ke depan dan meminta keduanya untuk menampar saya. Pun kedua teman tersebut, yang pertama ragu menampar, tetapi kemudian tetap menampar saya dan saya termangu tidak berkata apa-apa atas perlakuan tersebut.

Sejenak dari kejadian tersebut, pada saat pembagian rapor usai, semua sudah menerima rapor, wali kelas pun mulai memberi wejangan dan salah satunya menasehati dan menghibur saya atas ‘hadiah ganjil’ yang diberi. Beliau menasehati bahwa permintaan ‘menampar’ saya itu adalah agar saya tidak jumawa sementang menjadi juara kelas. Juara kelas sejati adalah yang mampu mendorong semua teman sekelasnya juga mampu menjadi juara, kurang lebih nasehat singkat beliau demikian. Mendapat nasehat demikian membuat perasaan saya campuraduk, antara terima dan tidak terima. Tidak terima karena ditampar oleh teman yang tidak berprestasi dan orang yang susah diajak pada satu sisi, ‘harus menerima’ ditampar sebagai bentuk ‘membumi’ di lain sisi. Paradox memang. Tapi setelah lama berlalu dari kejadian itu dan menapaki tahapan kehidupan hingga ke hari ini, saya menyadari satu hal: tamparan itu menghantarkan saya menjadi pembelajar sepanjang hayat yang tak boleh sombong dan tentu harus selalu berbagi dan berbagi. Dan itu pula membuat saya menjatuhkan pilihan menjadi ‘GURU PENGGERAK’.

 

2.      Selain saya, siapa lagi yang terlibat di dalam masing-masing peristiwa tersebut?
Pada peristiwa positif, unsur-unsur lain yang terlibat: guru-guru saya di MIN (Ibu Suriyawati, Ibu Salmi, Ustadzah Khairun – selaku koor. TPA, adik-adik TPA dari kelas Iqra 1 s.d. 6.
 
Pada peristiwa negatif, unsur-unsur lain yang terlibat: Wali kelas saya di kelas 8 SMP; Ustadz Hinnada, teman yang menampar saya, ada 2 orang: Alamsyah dan Subhan, kedua nilai terendah di kelas. Serta anggota kelas 2 SMP waktu itu berjumlah 42 orang yang menyaksikan kejadian.


3. Berdasarkan Roda emosi Plutchik tersebut, dampak emasi yang berpengaruh terhadap pekembangan saya sebagai seorang guru adalah:

Dampak emosi yang saya rasakan hingga sekarang berdasarkan perkembangan saya berdasarkan tapesium usia adalah: saya sudah mulai percaya diri, bangga, termotivasi dan bahagia dengan menjadi seorang guru.

Hal ini terjadi karena saya telah menikmati setiap proses yang saya lalui hingga kini, dengan segala perjuangan, tantangan, dan rasa syukur hingga mampu membuat saya  terus semangat untuk mengembangkan kompetensi diri guna berusaha untuk terus menjadi layak sehingga mampu memberikan resonansi positif dan akhirnya mampu menggerakkan lingkungan saya untuk bisa bersinergi terus bergerak maju menyongsong masa depan yang lebih baik, selamat dan bahagia.

Dalam konteks peran saya sebagai seorang guru/pendidik, maka saya akan terus berusaha menjadi teladan bagi peserta didik saya untuk selalu optimis dalam belajar dengan mengembangkan kekuatan kodratnya. Sehingga peserta didik mampu memaknai perannya sebagai pemelajar yang merdeka, mandiri dan semangat untuk menggali dan mengembangkan potensinya.

 

4.      Mengapa momen yang terjadi di masa sekolah masih dapat saya rasakan dan masih dapat memengaruhi diri saya di masa sekarang?

Momen-momen di sekolah bagi saya selalu berelasi dengan masa kini, karena dari momen-momen itu saya membina pengetahuan dan merajut pengalaman-pengalaman berharga yang mengantarkan saya ke gerbang hari ini yang ternyata realita profesi keseharian saya tidak jauh dari dunia pendidikan. Persisnya dunia pendidikan yang paripurna berupa pesantren yang dulu saya bersekolah di sana dan kemudian mengabdi hingga kini dipercayakan sebagai ujung tombak pengelola. Ini sebuah milestone yang luar biasa dan tak terkira bagi saya pribadi. Dan momen-momen di sekolah tersebut menjadi bekal berharga bagi saya dalam mewujudkan diri menjadi seorang pendidik yang inspiratif dan menggerakkan.

 

5.      Pelajaran hidup apa yang saya peroleh dari kegiatan trapesium usia dan roda emosi, terkait peran saya sebagai guru terhadap peserta didik saya?

Pelajaran hidup yang saya dapati dari kegiatan trapezium usia dan roda emosi adalah saya memiliki 2 hal utama dalam hidup; percaya dan optimis. Percaya dan optimis pada setiap hal yang positif dan bertumbuh, bahwa setiap hari Allah itu pasti ada hal baik di dalamnya walaupun yang saya dapati darinya hanya sedikit, tetapi dari sedikit yang kita cicil berhari-hari, dari waktu ke waktu dengan istiqamah akan menjadi hal besar di kemudian hari. Untuk itu, saya percaya dan optimis dengan apa yang saya tekuni dan jalani hari-hari ini, menjadi pendidik sepenuh hati, mendidik diri dan anak generasi. Insya Allah.


6.      Bagaimana saya menuliskan nilai-nilai yang saya yakini sebagai seorang Guru, dalam 1 atau 2 kalimat menggunakan kata-kata: "guru", "murid", "belajar", "makna", "peran"?

Peranan seorang guru yang ikhlas dalam menuntun murid dalam proses belajar yang bermakna niscaya akan menghadirkan perubahan yang signifikan dalam system/kultur pendidikan Indonesia. Guru ikhlas adalah prasyarat pendidikan merdeka, guru yang terlepas dari emblem materi, politik dan syahwat dunia.

 

 

TUGAS 2. NILAI DAN PERAN GURU PENGGERAK

 

Peran seorang Guru Penggerak berarti membantu para peserta didik ini untuk mandiri dalam belajar, mampu memunculkan motivasi peserta didik untuk belajar, juga mendidik karakter peserta didik di sekolah. Agar mampu berperan sebagai pemimpin dengan prinsip kepemimpinan tersebut, maka kita harus mempu mengembangkan kompetensi kita terlebih dahulu sehingga Guru penggerak menjadi layak, cakap dan mahir sebagai pemimpin.

Selaku Guru penggerak, saya harus memiliki nilai/sifat kepemimpinan yang baik sesuai filosofi pemikiran KHD, sebagai pemimpin pembelajaran, guru penggerak harus memiliki 3 prinsip kepemimpinan, yaitu mampu menjadi teladan (ing ngarso sung tuloda), mempu menjadi pendukung dan membangkitkan motivasi (ing madyo mbangun karso), dan mampu memberi dorongan (Tut Wuri Handayani). Jika 3 prinsip kepemimpinan itu kita terapkan dan dikejawantahkan menjadi semangat Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan.

Guru penggerak yang mandiri, berarti saya sebagai guru tersebut mampu memunculkan motivasi internal untuk membuat perubahan baik untuk diri pribadi saya maupun lingkungan sekitar. Perilaku yang bisa dilakukan guru adalah mau melakukan refleksi dan introspeksi terhadap kegiatan pembelajaran yang dilakukan. Mau mendengar saran dan kritik dari pengawas, kepala sekolah, sesama guru dan peserta didik.

Guru Penggerak mampu senantiasa mendorong dirinya sendiri untuk melakukan aksi serta mengambil tanggung jawab atas segala hal yang terjadi pada dirinya.  Peran tersebut adalah:

ü  Menjadi Pemimpin Pembelajaran

ü  Mewujudkan Kepemimpinan Peserta didik

ü  Menggerakkan Komunitas Praktisi

ü  Menjadi Coach Bagi Guru Lain

ü  Mendorong Kolaborasi Antar Guru

ü  Mewujudkan Kepemimpinan Peserta didik


Semoga sedikit sharing ini bermanfaat bagi saya pribadi dan rekan-rekan pendidik di manapun berada. Salam pendidikan dan salam belajar merdeka!

 






Selasa, 08 November 2022

Kesimpulan dan Refleksi Pengetahuan dan Pengalaman Baru yang Dipelajari dari Pemikiran Ki Hajar Dewantara

 

                                                                (Gambar: Kelasimpian.com)

Kesimpulan dan Refleksi Pengetahuan dan Pengalaman Baru yang Dipelajari dari Pemikiran Ki Hajar Dewantara

(Tugas Kesimpulan dan Refleksi Modul 1.1. PGP Angkatan 7)

Perkenalkan, nama saya Muhammad Fajri, S.Pd.I. Saya calon guru penggerak angkatan 7 dari SMPS Islam Al FAlah Kabupaten Aceh Besar. Saya akan menyampaikan  kesimpulan dan refleksi terhadap materi modul 1.1 tentang pemikiran Filososfi Ki Hajar Dewantara.

Indonesia patut bersyukur memiliki seorang anak bangsa yang brilian dalam memerdekakan pemikiran pendidikan yang ada pada sosok seorang Ki Hajar Dewantara yang bernama asli Suwardi Suryaningrat. Pikiran-pikiran bernas, amal usaha dan perjuangannya mengantarkan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang mampu meraih kemerdekaannya dengan bekal dan modal belajar merdeka tidak saja bermodalkan kekuatan otot dan senjata. Sejatinya perjuangan terhormat adalah perjuangan dengan basis pendidikan, karena derajat yang tinggi hanya dapat diperoleh dengan pendidikan.

Itulah sekelumit kiprah utama Ki Hajar Dewantara dalam upaya memerdekakan manusia Indonesia berupa memerdekakan pendidikannya yang menurut KHD pendidikan itu didefinisikan sebagai menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat (KHD, 1936, Dasar-Dasar Pendidikan).

Menuntun oleh KHD kemudian kejawantahkan dalam tiga pilar utama pengajaran KHD sebagai berikut: melayani mereka dengan setulus hati, memberikan teladan (ing ngarso sung tulodho), membangun semangat (ing madyo mangun karso) dan memberikan dorongan (tut wuri handayani). Dengan tiga pilar utama tersebutlah tonggak pendidikan yang dibangun Ki Hajar mampu mengangkat harkat martabat pendidikan Bangsa Indonesia hingga mampu mendorong manusia Indonesia yang merdeka, yakni manusia yang hidupnya lahir atau batin tidak bergantung kepada orang lain, akan tetapi bersandar akan kekuatan diri sendiri.

Selain ketiga pilar tersebut di atas, KHD juga meletakkan dasar-dasar system pendidikan lainnya yang dikenal dengan sebutan Trikon (Kontinyu, konvergen, konsentris). Kontinyu: berkesinambungan dengan masa lalu, Konvergen: bertemu secara terbuka dengan perkembangan alam dan zaman. Dan Konsentris: menyatu dengan nilai-nilai kemanusiaan, dunia.

Keberadaan asas-asas pendidikan yang telah ditanamkan dan diperjuangkan oleh KHD tersebut menjadi sangat vital dan mutlak untuk terus dipertahankan dan menjadi modal penting bagi pendidikan bangsa Indonesia di masa kini. Karena secara universal, nilai-nilai yang sudah ditawarkan oleh KHD adalah nilai-nilai yang teruji yang mana nilai-nilai tersebut dapat berlaku di mana saja dan tak akan lekang oleh zaman. Sudah ideal pula pilar dan nilai yang sudah dikembangkan KHD menjadi modal utama setiap sekolah di Indonesia.

Di sekolah tempat saya mengajar, setiap tata nilai yang ditanamkan oleh KHD diterjemahkan menjadi apa yang kamu lihat, apa yang kamu dengar, apa yang kamu rasa adalah pendidikan. Pendidikan harus bersifat universal dan holistic.

Berangkat dari pengajaran KHD, saya selaku penerus pejuangan KHD sebagai pengajar dan pendidik, saya sudah melakukan dan menerapkan tata nilai dari ajaran KHD dalam proses pengajaran dan pendidikan sehari-hari di lingkup sekolah maupun komunitas belajar yang saya terlibat di dalamnya.

Selanjutnya, saya akan merefleksikan diri terkait dengan telaah modul 1.1. PGP angkatan 7 melalui 3 pertanyaan pemantik berikut:

 

1.       Apa yang Anda percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum Anda  mempelajari modul 1.1?

Sebelum saya mempelajari modul 1.1. ini saya mempunyai keyakinan bahwa:

o   Pembelajaran cenderung berpusat pada guru ketimbang murid. Gurulah yang punya peranan dominan dalam proses PBM.

o   Sajian pelajaran yang disajikan dengan hanya satu pendekatan dan dengan satu gaya dapat diterima oleh seluruh peserta didik

o   Guru dapat memaksakan kehendaknya pada peserta didik

o   Peserta didik harus memiliki nilai cemerlang pada setiap mata pelajaran yang dipelajari

 

2.               Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku Anda setelah mempelajari modul ini?

Setelah saya mempelajari modul 1.1. ini saya tentang Filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara banyak hal dan pemahaman yang saya dapatkan. Pemikiran KHD membuka cakrawala saya dalam memaknai keberagaman peserta didik yang harus diajarkan sesuai dengan karakter dan gaya belajar masing-masing, yang mana belum terlalu optimal saya praktikkan di ruang kelas. Selain itu, bahwa, pembelajaran yang ideal adalah pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Guru harus berperan sebagai fasilitator atau pada istilah KHD disebut sebagai penuntun atau pamong. Ini menjadi tantangan bagi saya, bagaimana upaya saya di masa depan untuk menciptakan kondisi kelas yang lebih memberdayakan peserta didik, pembelajaran yang terpusat pada peserta didik dan memberdayakan pula kodrat gaya belajar yang telah ada pada mereka dengan tanpa memaksa kehendak saya pribadi sebagai guru.

Di samping itu, saya juga menyadari dengan adanya masing-masing karakter (kodrat) pada masing-masing peserta didik, maka kodrat inilah yang harusnya diasah dan dipoles oleh para guru agar berkembang dengan baik dan selaras tanpa harus memaksa keinginan guru yang cenderung tidak sepenuhnya memahami kodrat dan bakat minat peserta didik. Dan terkait ini pula, tidak ada keharusan pada peserta didik untuk cemerlang pada semua mata pelajaran.

 

3.      Apa yang dapat segera Anda terapkan lebih baik agar kelas Anda mencerminkan pemikiran KHD?

 

Hal-hal yang ingin saya rubah dari kelas saya agar mencerminkan pemikiran KHD adalah saya akan mendorong peserta didik di kelas saya untuk bertumbuh dengan kodratnya (bakat minat mereka). Terkait ini, tentu saya harus melakukan assesmen diagnostic agar lebih mengenal dana mengetahui modal para peserta didik ini supaya tuntunan yang akan saya berikan pada mereka tepat guna.

Selain itu, saya akan berusaha untuk menyajikan pelajaran saya dengan pendekatan yang menghargai pola belajar peserta didik yang terdifferensiasi. Tiga pola belajar (audio, visual dan kinestetik) ini perlu menjadi perhatian utama saya dalam menyajikan pelajaran agar pelajaran saya dapat menjangkau semua peserta didik dan dapat diterima dengan baik pula oleh seluruhnya.

 

Selasa, 22 Februari 2022

Bahan Sekolah Bermutu 2019



SMPS ISLAM AL-FALAH DITUNJUK SEBAGAI SEKOLAH BERMUTU TAHUN 2019



Apa itu program sekolah bermutu? Simak ulasannya berikut ini: 

Tidak hanya bagi masyakat awam, di kalangan dunia pendidikan kita pun belum semua mengenal Program BERMUTU. Program yang ditengarai berdampak positif terhadap peningkatan kompetensi dan kinerja guru ini memang hanya dilaksanakan di 16 provinsi dan 75 kabupaten/kota yang menjadi mitra Program BERMUTU. Secara efektif program ini telah dilakukan sejak tahun 2009, setelah sebelumnya dilakukan perencanaan dan persiapan. Pada tahun 2013, Program BERMUTU memasuki “exit strategi”, dan akan berakhir pada tanggal 31 Desember 2013.

Apakah yang dimaksud dengan BERMUTU? Program yang digagas oleh Prof. Fasli Jalal, Ph.D., sewaktu beliau menjabat sebagai Dirjen PMPTK ini diberi singkatan Better Education Through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading) yang terjemahan bebasnya ialah peningkatan mutu pendidikan melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Pelaksanaan Program BERMUTU ini juga dilatarbelakangi oleh diterbitkannya UU nomor 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen. Dengan kata lain, Program BERMUTU dilaksanakan untuk mengawal Undang-Undang tersebut.

Sumber pendanaan Program BERMUTU berasal dari dari Pemerintah Belanda (melalui Dutch Trust Fund) dan Bank Dunia (pinjaman lunak melalui IDA Credit dan IBRD Loan), serta dana pendampingan yang berasal dari Pemerintah Pusat, dalam hal ini Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK), Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi dan Balitbang Depdiknas, serta Pemerintah Daerah. Dengan demikian, aturan yang berlaku untuk pelaksanaan kegiatannya harus berdasarkan kesepakatan semua pihak (Pemerintah Indonesia, Bank Dunia dan Pemerintah Belanda).

Setelah Pemerintah menerbitkan UU Nomor 14 Tahun 2005, tentang Guru dan Dosen, kemudian memberikan tunjangan sertifikasi kepada guru, tidak serta merta meningkatkan mutu pendidikan, sebab mutu pendidikan tidak hanya dihasilkan oleh guru yang sejahtera, melainkan oleh guru yang memiliki kualifikasi dan kompetensi yang baik, atau disebut sebagai guru profesional. Untuk menyelaraskan antara kesejahteraan guru dengan profesionalitas,perludiupayakan suatu tindakan segera dalam hal memperbaiki performance guru. Upaya meningkatan kualifikasi guru yang berkaitan dengan peningkatan kualitas bangsa, mendesak untuk dilakukan berbagai terobosan baru, sedangkan dana APBN memang terbatas. Inilah jawaban mengapa Pemerintah kemudian mencari dana bantuan ke luar negeri.

Apakah persoalan yang masih menjadi kendala, setelah pemerintah berusaha meningkatkan kesejahteraan guru melalui tunjangan setifikasi? Menurut RPJMN 2010-2014, Bab II, setidaknya ada 2 (dua) persoalan yang masih mengait dengan guru, yakni: (1) Profesionalitas guru masih rendah; dan (2) Distribusinya belum merata.

Profesionalitas guru sangat penting dalam membangun bangsa. Ibarat seorang dokter, jika terjadi mall praktek, bukan kesembuhan yang terjadi, tetapi mala petaka, kematian. Jika seorang dokter melakukan mall praktik, yang mati hanya seorang pasien, tetapi jika guru yang melakukan mall praktik atau salah didik, maka puluhan, ratusan, sampai ribuan generasi yang akan mengalami kegagalan dalam kehidupan ini. Jelas, bahwa bahaya lebih besar akan muncul dari seorang guru bangsa yang salah didik, karena tidak profesional.

Kesimpulan tentang profesionalitas guru yang rendah dan distribusi yang belum merata, diambil dari fakta dan data sebagai berikut: (1) Pada tahun 2008, guru yang memenuhi kualifikasi akademik S1/D4 mencapai sekitar 47,04 persen, sementara guru yang sudah tersertifikasi sebanyak 15,09 persen; (2) Distribusi guru yang masih belum merata. Distribusi yang tidak merata berdampak pada terjadinya inefisiensi penyediaan guru yang tercermin dari kecilnya rasio murid dan guru di Indonesia pada jenjang (SD 1:20 ; SMP 1:14); dan (3) Hanya 44% guru memenuhi jumlah jam mengajar minimal 24 jam per minggu.

Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah sudah selayaknya mengupayakan berbagai alternatif untuk percepatan belajar siswa. Salah satu unsur kunci adalah mutu guru, sebagaimana ditekankan dalam berbagai literatur dan hasil penelitian. Berbagai penelitian tentang guru dan hasil belajar siswa memberikan sejumlah implikasi pentingnya berbagai strategi peningkatan mutu guru dalam rangka memperbaiki proses pembelajaran. Beberapa temuan penting dari berbagai riset adalah: (1) Keterampilan dan pengetahuan guru cenderung berpengaruh besar terhadap prestasi siswa dibanding variabel lain seperti pengalaman guru, ukuran kelas, dan rasio guru‐siswa; (2) Para siswa dapat mencapai prestasi yang lebih tinggi dalam matematika dan IPA jika diajar oleh guru yang telah bersertifikat standar; (3) Persiapan dan sertifikasi guru memiliki korelasi yang paling kuat dengan prestasi siswa dalam membaca dan matematika; (4) Peningkatan gaji guru cenderung berdampak secara langsung terhadap prestasi siswa, kecenderungan adanya kesamaan persepsi bahwa tingkat gaji guru akan berpengaruh terhadap minat memasuki profesi guru; dan (5) Lama pengalaman mengajar berdampak pada prestasi siswa.

Penelitian tentang pemanfaatan guru berkualifikasi rendah seperti guru tidak bersertifikat terdapat di sekolah negeri dan swasta, serta madrasah menunjukkan bahwa: (1) pengalaman guru dan persiapan mengajar secara signifikan berpengaruh terhadap prestasi siswa; dan (2) penugasan guru tidak tetap berkait dengan rendahnya prestasi siswa.

Penelitian dimaksud merekomendasikan adanya insentif bagi guru agar dapat memberikan waktu yang lebih kepada siswanya sehingga meningkatkan pembelajaran siswa. Tingkat pendidikan, prestasi dan sertifikasi tidak dapat menjamin para guru mampu menyampaikan pengetahuan yang diperoleh sepanjang hidupnya dalam bentuk materi pelajaran yang memadai selama proses belajar mengajar. Penguasaan materi dan keterampilan mengajarkan materi, akan menentukan keberhasilan peningkatan pembelajaran siswa.

Pengembangan Profesional Berkelanjutan (Continuous Professional Development) diyakini akan menjadi salah satu faktor penentu utama dari performansi/kinerja guru atau pembelajaran siswa. Pengalaman negara‐negara lain mendukung kenyataan bahwa partisipasi dalam workshop, kursus dan pelatihan, mengarah pada peningkatan kualitas guru secara signifikan. Rancangan Program BERMUTU dikembangkan dalam kerangka pikir tersebut, “nilai tambah” program adalah membantu upaya Pemerintah yang mengarah kepada guru yang bersertifikat yang selanjutnya diharapkan dapat menghasilkan praktik pembelajaran yang baik.

Menurut Direktur P2TK Dikdas, Sumarna Surapranata, Ph.D dalam kegiatan Rakornas I Tahun 2013 menyebutkan tentang alasan mengapa Kemdikbud menggunakan Program BERMUTU. Pertama, Indonesia sudah melakukan banyak upaya untuk memperluas akses, kini saatnya untuk berfokus pada mutu. Kedua, BERMUTU merupakan pendekatan yang komprehensif untuk menjawab persoalan yang menyangkut mutu pendidikan dengan mengembangkan kemampuan profesional guru.

Kedua, alasan tersebut seiring dengan tujuan dilaksanakannya Program BERMUTU, yaitu: (1) Untuk memperbaiki mutu guru melalui peningkatan kompetensi dan kinerja guru. Upaya peningkatan kompetensi dalam BERMUTU sejalan dengan peningkatan 4 (empat) kompetensi sebagaimana tertuang pada pasal 10 Undang-Undang No. 14/2005; (2) Pelaksanaan BERMUTU juga sejalan dengan Permenegpan dan RB No.16/2009, yang bertujuan untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru sebagai tenaga profesional dalam rangka peningkatan mutu pendidikan nasional sebagaimana diamanatkan dalam UUSPN No. 14 Tahun 2005 Pasal 4.

Selama ini, memang telah ada kegiatan di KKG dan MGMP, sebagai kegiatan yang mandiri, tetapi kegiatan itu seperti pepatah “hidup segan mati tak mau”. Di lain pihak, Pemerintah melalui lembaga-lembaga diklat, seperti Balai Penataran Guru (BPG) yang diubah menjadi Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), dan juga di Pusat-Pusat Pengembangan dan Penataran Guru (P3G) yang sekarang menjadi Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Bidang Mesin dan Teknik Industri (P4TK BMTI), tetapi rasio jumlah guru dengan daya tampung peserta diklat, sungguh tidak seimbang. Diperlukan waktu puluhan tahun untuk memberikan kesempatan kepada semua guru melakukan perbaikan kualitas PBM melalui diklat. Meskipun, para peserta diklat diwajibkan untuk mengimbaskan materi yang diterimanya kepada rekan sejawat, tetapi pada praktiknya hal itu memang jarang terjadi.

Kita juga harus memahami, bahwa untuk memajukan pendidikan, memang diperlukan pengorbanan besar. Pendidikan sebenarnya adalah investasi masa depan. Banyak individu, para orang tua yang rela kehabisan harta bendanya, yang penting anak-anaknya bisa menjadi sarjana, menjadi dokter, menjadi insinyur, karena mereka sadar, bahwa ilmu pengetahuan, sebuah profesi, merupakan bekal hidup yang utama.

Tujuan Program BERMUTU adalah untuk mendukung upaya peningkatan kualitas dan kinerja guru melalui peningkatan penguasaan materi pembelajaran dan keterampilan mengajar di kelas. Program ini dikembangkan dalam kerangka kerja kualitas pendidikan yang menyeluruh. Indikator kunci untuk mengukur peningkatan kualitas dan kinerja guru adalah: (1) Peningkatan jumlah guru yang memenuhi kualifikasi akademik sebagaimana ditetapkan dalam UUGD; (2) Peningkatan jumlah guru SD dan SLTP di kabupaten/kota mitra Program BERMUTU yang mengajar sesuai dengan latar belakang pendidikannya, dan menggunakan strategi mendidik yang sesuai dengan usia siswa; dan (3) Penurunan angka kemangkiran guru di kabupaten/kota mitra Program BERMUTU.

Apa saja 4 komponen yang menjadi sasaran untuk dilakukan perbaikan? Berikut, komponen yang menjadi target perbaikan, yang diharapkan dapat mempengaruhi mutu guru.

1. Reformasi Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK).

Komponen ini terdiri atas 3 (tiga) sub‐komponen, yaitu: pertama, dukungan untuk Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN‐PT) dalam upaya menyempurnakan sistem akreditasi khusus bagi LPTK. Pada saat ini BAN‐PT dihadapkan pada dua tantangan utama, yakni: 1) kebutuhan mendesak untuk mengembangkan instrumen akreditasi, dan melatih asesor menggunakan instrumen tersebut untuk menilai kapasitas LPTK dalam menyelenggarakan pendidikan guru sesuai dengan standar dan kompetensi yang ditetapkan dalam UUGD; 2) BAN‐PT sedang mengembangkan kebijakan akreditasi institusi khusus untuk LPTK; 3) sehubungan dengan itu, sub‐komponen ini menyediakan bantuan tenaga ahli (technical assistance) bagi BAN‐PT untuk mengembangkan sistem akreditasi LPTK yang sesuai dengan standar kompetensi guru yang ditetapkan dalam peraturan perundang‐undangan, dan peningkatan biaya operasional terkait dengan akreditasi LPTK bekerjasama dengan asosiasi profesi dan pemangku kepentingan lainnya.

Kedua, dukungan bagi Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) untuk mengembangkan kapasitas LPTK melalui: (1) Program Dana Insentif Akreditasi LPTK bagi LPTK untuk mengembangkankapasitas kelembagaan dalam rangka meningkatkan kualitas program pendidikan guru. Insentif Akreditasi diberikan kepada Program Studi LPTK yang memenuhi persyaratan melalui proses kompetisi. Program ini ditawarkan kepada sekitar 303 LPTK negeri dan swasta, yang selanjutnya diseleksi menjadi 40 LPTK pemenang yang berhak memperoleh hibah. Hibah diberikan untuk jangka waktu 3 tahun dari 2008 sampai dengan 2010. Dengan dukungan hibah kompetisi ini diharapkan program studi kependidikan pada LPTK pemenang hibah tersebut dapat mencapai peringkat akreditasi yang lebih tinggi atau maksimal; (2) Dukungan dana bagi Universitas Terbuka untuk meningkatkan layanan pendidikan bagi guru melalui pengembangan materi pembelajaran. Dana diberikan berdasarkan proposal program yang disetujui oleh Ditjen Dikti; (3) Dana Insentif Pengembangan Bahan Pembelajaran Jarak Jauh (DIPBPJJ) yang mencakup penyediaan insentif berbasis kinerja bagi Universitas Terbuka dan hibah kompetisi yang ditawarkan kepada LPTK Anggota Konsorsium PJJ S1 PGSD untuk meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pengembangan bahan ajar berbasis online.

Ketiga, penyediaan beasiswa bagi 30 dosen LPTK untuk mengikuti pendidikan S3 (Ph.D) di luar negeri dan pengiriman 90 orang dosen LPTK ke luar negeri untuk mengikuti pelatihan, seminar, atau workshop mempelajari sistem sertifikasi guru, akreditasi LPTK, dan berbagai program pendidikan guru. Diharapkan pada akhir pelaksanaan berbagai kegiatan pada komponen ini diperoleh hasil antara lain: (1) peningkatan jumlah program studi pendidikan guru yang terakreditasi baik, dan (2) peningkatan jumlah tamatan LPTK yang terakreditasi yang memenuhi standar kompetensi yang dipersyaratkan.

2.Penguatan Struktur Pengembangan Guru di Tingkat Daerah.

Komponen ini terdiri dari 4 (empat) sub‐komponen, yaitu: pertama, pengembangan mekanisme pengakuan terhadap pengalaman belajar sebelumnya atau Recognition of Prior Learning (RPL) dari guru, termasuk uji kelayakannya.

Kedua, Pengembangan modul‐modul bidang studi dan manajemen sebagai bahan pendukung kegiatan belajar bagi para guru, guru inti, dan kepala sekolah pada gugus sekolah. Kegiatan ini dilaksanakan berdampingan dengan pengembangan kapasitas P4TK pada BEP yang didanai AusAID.

Ketiga, penyediaan Dana Bantuan Langsung (DBL) bagi Kelompok Kerja Guru (KKG, Tingkat SD) dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP, Tingkat SLTP) untuk membiayai berbagai kegiatan guru, termasuk kunjungan antar kelas, penggunaan modul yang dikembangkan secara nasional, dan kegiatan inovatif lainnya.

Keempat, penyediaan DBL bagi Kelompok Kerja Kepala Sekolah (KKKS, SD), Musyawarah Kerja Kepala Sekolah ( MKKS, SMP), Kelompok Kerja Pengawas Sekolah (KKPS, SD), dan Musyawarah Kerja Pengawas Sekolah (MKPS, SMP) agar mereka mampu: 1) mengembangkan program magang (induction) berbasis sekolah bagi guru pemula, 2) melakukan pelatihan penilaian guru berbasis kinerja, 3) melaksanakan program magang bagi guru pemula, dan 4) melaksanakan proses pelaporan penilaian kinerja pada akhir masa pemagangan guru.

Hasil yang dicapai pada akhir program dari komponen ini adalah: 1) meningkatnya jumlah guru yang memperoleh RPL dari perguruan tinggi yang terakreditasi; 2) meningkatnya jumlah kelompok kerja guru (KKG/MGMP), kepala sekolah (KKKS/MKKS), dan pengawas (KKPS/ MKPS) yang aktif di kabupaten/kota mitra Program BERMUTU; 3) meningkatnya jumlah guru pemula yang memperoleh kesempatan mengikuti program magang di sekolah‐sekolah pada kabupaten/kota mitra Program BERMUTU.

3.Reformasi Akuntabilitas Guru dan Sistem Insentif untuk Peningkatan Kinerja dan Karir Guru.

Komponen ini terdiri atas 3 (tiga) sub‐komponen, yaitu: pertama pengembangan kebijakan, proses, dan instrumen untuk pembinaan dan promosi berbasis kinerja serta pengembangan pendekatan untuk mengatasi guru‐guru bersertifikasi yang berkinerja lemah (under‐performance); Kedua, Uji coba dan penyempurnaan kebijakan, prosedur dan instrumen yang dikembangkan pada sub‐komponen 3.a. Kegiatan ini diikuti dengan pengembangan rencana dan strategi untuk pembinaan guru secara berkelanjutan bagi guru bersertifikat, dan pengembangan kerangka kerja terpadu untuk menjaga dan meningkatkan kualitas guru berdasarkan hasil dan temuan dari uji coba di beberapa kabupaten/kota; Ketiga, hasil dari komponen ini adalah pembaharuan kebijakan, rencana dan prosedur untuk pengembangan profesional berkelanjutan dan pembinaan karir bagi guru bersertifikasi. Kebijakan, prosedur dan instrumen tersebut dikembangkan dan diujicobakan agar siap diterapkan oleh pemerintah pada tahun 2011.

4.Peningkatan Program Koordinasi, Pemantauan dan Evaluasi.

Komponen ini terdiri atas 3 (tiga) sub‐komponen, yaitu:

Pertama, memiliki dua bagian yang dilaksanakan Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdiknas. Pemantauan kegiatan Program BERMUTU dan sertifikasi guru yang menyatu dalam sistem monitoring yang sudah ada. Kegiatan ini terkait dengan peningkatan biaya operasional pengembangan sistem monitoring sertifikasi guru dan program DBL pada Komponen 1 dan 2;Kegiatan ini memperkuat sistem monitoring berkala terhadap guru. Kegiatan yang dilakukan adalah: 1) mengembangkan sistem monitoring guru yang sudah ada untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan waktu tanggapan dalam memantau proses sertifikasi guru; dan 2) pengembangan sistem pemantauan terhadap waktu efektif mengajar dan metode pembelajaran yang diterapkan di kelas.

Kedua, memiliki fokus pada Evaluasi Formal, dengan serangkaian kegiatan studi evaluasi untuk mengukur dampak berbagai kegiatan Program BERMUTU terhadap perilaku mengajar guru dan hasil belajar siswa, dan Assesment cepat, dilaksanakan oleh Balitbang, untuk memberikan balikan segera berkenaan dengan proses sertifikasi guru dan implementasi BERMUTU.

Ketiga, berupa kegiatan‐kegiatan untuk mendukung koordinasi dan monitoring program BERMUTU.

Pada akhir pelaksanaan kegiatan komponen ini tersedia database guru yang berguna untuk melacak kemajuan penempatan guru, kualifikasi akademik, sertifikasi, dan pembayaran tunjangan profesi pendidik.

Melihat penjelasan umum mengenai Program BERMUTU, sesungguhnya kita sedang melihat suatu upaya untuk membenahi pendidikan di Indonesia secara kompherensif, yang dimulai dari pembenahann terhadap guru, sebagai ujung tombak pendidikan.

Untuk praktisi pendidikan dan para guru yang ingin materi terkait program sekolah bermutu dapat mengunduh di tautan ini: Download


Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Mengenal Program Bermutu", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/nasin/552a73c3f17e616e0fd623d9/mengenal-program-bermutu
Kreator: Nasin S.Pd.MPd.

PENERIMAAN SANTRI BARU GELOMBANG 2 PESANTREN MODERN AL FALAH ABU LAM U

PENERIMAAN SANTRI BARU 
GELOMBANG 2
PESANTREN MODERN AL FALAH ABU LAM U

--- Mendidik dengan hati, mencetak generasi rabbani ---



Assalamu'alaikum. Wr. Wb.
Ayah, Bunda, Adik-adik pelajar yang dirahmati Allah.
Pesantren Modern Al Falah Abu Lam U kembali membuka pendaftaran santri baru tahun pelajaran 2022/2023. Pendaftaran dibuka dari tanggal 21 Februari 2022 s.d. 05 Maret 2022 untuk jenjang SMP dan SMA.

Mengapa belajar di Al Falah Abu Lam U? Berikut beberapa alasannya:

TUJUAN PENDIDIKAN

Pendidikan dan Pengajaran di Pesantren Modern Al- Falah Abu Lam U diarahkan pada pembentukan sumber daya manusia yang :

  1. Bertaqwa kepada Allah SWT dan berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.
  2. Berakhlak dan berbudi pekerti luhur.
  3. Cerdas, terampil, disiplin, mandiri, suka bekerja keras serta profesional dalam menghadapi tantangan.
  4. Berwawasan luas dan bebas dalam berpikir demi tercapainya persaudaraan yang abadi sesama umat manusia.
  5. Berbadan sehat.
KURIKULUM PENDIDIKAN

1. Intra-Kurikuler

     Pesantren Modern Al-Falah Abu Lam-U mengikuti Kurikulum inti (nasional) yang dilengkapi dengan Kurikulum institusional (lokal) dengan berupaya memadukan sistem pendidikan umum dengan sistem pendidikan dayah secara integral (pendidikan agama 100% dan pendidikan umum 100%). Kurikulum pendidikan pesantren dan sekolah bernaung di bawah Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Agama. Diharapkan dengan Kurikulum semacam ini dapat berkonstribusi dalam menciptakan generasi Islam yang tidak terbatas pada keunggulan intelektual semata, melainkan terintegrasi dalam satu sistem pendidikan yang mengutamakan keseimbangan pada Intelektual Quotion (Ilmu Pengetahuan/Sains) dan Emotional Quotion (Akhlaqul Karimah) serta Spiritual Quotion (kecerdasan Spritual/Agama).

Pesantren Modern Al-Falah Abu Lam U mengelola program pendidikan yang diasramakan untuk jenjang SMP dan SMA serta Dayah  Manyang (Ma’had Aly). Saat ini, SMP Islam Al-Falah memperoleh status akreditasi A dan untuk SMA Islam Al-Falah memperoleh status akreditasi A serta bekerjasama juga dengan PASCH Jerman untuk program belajar bahasa Jerman. Untuk proses belajar mengajar menggunakan sistem klasikal yang berlangsung dari pukul 07.30 s/d 16.00 WIB dan memperoleh bimbingan guru langsung selama 24 jam.

2. Ekstra-Kurikuler

Di luar program intra, pesantren menyediakan kegiatan ekstrakurikuler baik harian, mingguan dan bulanan, yakni berupa pelatihan atau kursus, seperti: Komputer, tahfidz Qur’an, menjahit, drumb band, tarian adat,  rebana letter, jurnalistik, sulam, lukis balik kaca, kaligrafi, dan tahsinul Qira’ah.  Di bidang olah raga tersedia klub: bola basket, bola kaki, volly, tenis meja, badminton, karate, dan seni beladiri Tapak Suci. Adapun program mingguan santri yaitu: Latihan Kepramukaan, Muhadatsah (Latihan Percakapan Bahasa Arab/Inggris), Muhadharah (Latihan Pidato Arab, Inggris, Indonesia dan Aceh), program cinta lingkungan “Tandhiful `Am” dan aneka lomba kreativitas (news reading, telling story, membaca puisi, pementasan drama, dan lain-lain).

3. Lulusan dan Alumni
Lulusan Pesantren Modern Al- Falah Abu Lam U pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) akan memperoleh 2 (dua) Ijazah yakni ijazah SMA setelah lulus mengikuti Ujian Nasional (UN) dan Ijazah Pesantren setelah lulus mengikuti Ujian Kelulusan Pesantren. Dengan demikian, lulusan Pesantren Modern Al- Falah Abu Lam U dapat melanjutkan pendidikan di universitas umum maupun universitas agama. Saat ini, alumni telah menyebar di beberapa perguruan tinggi terkemuka di dalam dan luar negeri, di antaranya di: Waseda Univesity Jepang, Deakin University Australia, Univesitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta, Perguruan Islam Ar-Raayah Suka Bumi, Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, IAIN Ar-Raniry Banda Aceh, dan Perguruan Tinggi lainnya.

 FASILITAS PENDIDIKAN

Guna mendukung pendidikan santri di bidang akademis dan non akademis, pesantren telah memiliki fasilitas sebagai berikut:

1. Masjid/Mushalla putri                      12. Laboratorium Bahasa                              

2. Asrama Putra/Putri +MCK               13. Laboratorium IPA

3. Ruang Belajar                                   14. Laboratorium Komputer

4. Ruang Makan                                   15. Lab.Skill Pertukangan

5. Aula Serba Guna                              16. Lapangan Basket Putra / Putri

6. Perpustakaan                                    17. Lapangan Sepak Bola Mini

7. Klinik Kesehatan                             18. Lapangan Volly Putra/ Putri

8. Sanggar Seni                                   19. Lapangan Badminton Indoor

9. Sanggar Menjahit                            20. Meja Tenis Meja

10.Instalasi Air Minum                        21. Perangkat Alat Musik 

11. Wartel Santri                                  22. Kantin Putra/ Putri

 

TENAGA PENGAJAR

Dewan guru Pesantren Modern Al-Falah Abu Lam U berasal dari berbagai lembaga pendidikan terkemuka, seperti: UIN Kalijaga Jogja, IAIN Ar-Raniry,  Unsyiah, KMI/ ISID Pondok Modern Gontor Jatim, Univ. Al Azhar Mesir, Deakin University Autralia, Univ. Serambi Mekkah, dan Pesantren Modern Al-Falah Abu Lam-U sendiri.

Demikian sedikit ulasan kami tentang penerimaan Santri Baru Gelombang 2 Tahun Pelajaran 2022/2023. Semoga di tahun pelajaran mendatang kita dapat bersama-sama berbagi baik dengan belajar bersama di pondok tercinta ini yang memiliki semangat 'Rahmatan lil 'Aalamiiin'.